Situs Purbakala Online
Indonesia

Wajib : Corat-Coret Seragam Saat Kelulusan

Corat-Coret Seragam Saat Kelulusan SMA

Rasanya memang kurang lengkap jika mendengar kelulusan anak SMA tanpa adanya aksi corat-coret seragam. Kegiatan unik ini seakan telah menjadi budaya di negeri kita tercinta Indonesia Raya. Merdeka !! Tidak hanya itu saja, biasanya corat-coret seragam berlanjut dengan aksi konvoi motor keliling kota. Ada yang satu motor bertiga, ada juga yang berempat, berlima dan seterusnya. Menakjubkan.. semangat persatuan begitu kental pada setiap konvoi yang mereka lakukan. Dengan seragam yang telah berubah menjadi warna-warni mereka seakan dapat melalui segala medan jalan, bahkan polisi bukan tandingan.

Saya pikir sudah sepatutnya kita harus merasa bangga. Pasalnya, mungkin saja ritual semacam ini termasuk dalam daftar fenomena yang hanya ada dan hanya terjadi di Indonesia. Karena saya yakin tidak ada negara lain yang siswa-siswinya mempunyai budaya semacam ini.  Hal ini sangatlah logis mengingat seragam anak sekolah di luar negeri memang terlalu bagus untuk dicoret. SMA di Jepang misalnya, dari beberapa film yang saya tonton kebanyakan seragam SMA di Jepang dilengkapi dengan jas, dasi, rompi yang semuanya terlihat mewah. Tas, sepatu, buku dan perlengkapan lainnya juga bagus. Jadi sangat sayang jika harus diwarnai dengan cat semprot. Apalagi konon kabarnya semua fasilitas itu gratis. Pasti nggak enak lah kalau mau corat-coret. Sangat sedikit pula siswa-siswi di Jepang yang membawa motor ke sekolah. Mereka kebanyakan jalan kaki atau naik angkot. Jadi sangatlah tidak mungkin terjadi konvoi. Entah budaya apa yang terjadi disana saat kelulusan.

Corat Coret Seragam

Corat Coret Seragam

Kembali ke tanah air. Bicara soal corat-coret anak SMA, sebenarnya dari tahun ke tahun terjadi perkembangan yang sangat pesat. Jika jaman dulu aksi corat coret hanya sekedar corat-coret saja kini kegiatan tersebut telah berkembang menjadi semakin inovatif. Sekarang ini bukan hanya mewarnai seragam saja, memodifikasi seragam juga kerap kali dilakukan khususnya oleh para pelajar putri. Tengok saja beberapa foto yang beredar di sosial media. Banyak sekali yang berhasil membuat para pakar terkejut dengan hasil modifikasi seragam yang mereka lakukan. Rok SMA yang biasanya terkesan kaku menjadi tampak lebih elegan dengan potongan yang halus di beberapa bagian. Baju osis yang standar juga terlihat lebih pas dikenakan dengan paduan warna yang abstrak dan beberapa perubahan pada lengan dan kancing baju. Dan masih banyak lagi inovasi-inovasi lain yang telah dilakukan oleh adik-adik SMA kita.

Seharusnya pemerintah dapat melihat fenomena corat-coret ini sebagai potensi wisata yang cukup menjanjikan. Dengan sedikit arahan dan masukan positif, bukan tidak mungkin budaya corat-coret ini dapat menjadi salah satu sektor penghasil devisa negara yang cukup besar. Karena seperti yang telah dibahas tadi bahwa besar kemungkingan corat-coret hanya ada dan hanya terjadi di Indonesia. Jangan sampai kita menyesal jika suatu hari nanti budaya ini diklaim negara sebelah. Selain itu pemerintah seharusnya juga dapat menjadikan budaya corat-coret ini sebagai perlombaan tahunan antar SMA, sehingga daya kreatifitas dan unsur seni yang terkandung di dalamnya dapat ditingkatkan. Mengingat corat-coret yang dilakukan selama bertahun-tahun ini terkesan monoton tanpa konsep yang cukup kuat. Dengan dijadikan perlombaan, maka siswa-siswi akan lebih tertantang membuat karya seni yang lebih terkonsep dan tidak terlalu abstrak.

(Sumber foto : simomot.com)

by :

Seorang pemuda yang senantiasa membela kepentingan bangsa dan negara Indonesia di atas kepentingan pribadi dan golongan. Menulis untuk dibaca.