Situs Purbakala Online
Akhirat

Tamu Tak Diundang

Kucing hitam - Tamu tak diundang

Tidak terasa sudah hampir satu jam aku berusaha membuka pintu ini. Masih saja belum terbuka. Berkali-kali aku goyangkan gagang pintu itu tapi tetap tidak terbuka. Rumah ini memang sudah terlalu tua. Rumah jaman dulu. Jaman belanda katanya. Catnya sudah mulai mengelupas. Bagian dalamnya seperti mushola. Entah apa yang dipikirkan arsiteknya saat itu. Rumah kontrakan ini benar-benar seperti mushola. Warnanya serba putih. Langit-langit ruang tamunya melengkung, rasanya seperti sedang jumatan kalau sedang duduk disana.

Setelah berisitirahat sejenak, dengan sedikit tenaga ekstra dan banyak doa akhirnya pintu pun berhasil kubuka. Aku pun masuk dengan lega. Ruangan kosong pun menyambutku dengan gembira. Sejak pertama ngontrak aku memang belum sempat membeli kursi apalagi sofa. Belum ada uang lebih tepatnya. Lagipula jarang sekali ada tamu atau teman yang berkunjung. Bagiku tak masalah kalau harus serba lesehan.

Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju kamar. Disitu hanya ada kasur, meja kayu dan 2 kursi yang biasa kugunakan untuk bekerja. Segera kubaringkan tubuhku di kasur yang makin lama makin terlihat kusam. Setidaknya sampai detik ini baru terlihat kusam, belum terasa gatal.

Baru beberapa saat tiduran, rasa-rasanya aku mendengar suara langkah kaki kecil yang perlahan mendekat menuju kamar. Masih lelah setelah berjuang mati-matian membuka pintu, aku pikir itu hanya suara dalam pikiranku. Suara otak-ku sendiri mungkin. Ternyata bukan. Tampak tak jauh dariku sesosok kucing hitam bermata kuning. Berdiri diam, menatapku tajam. Jadi  yang kudengar tadi memang benar suara kaki kecil. Suara kaki kucing hitam yang masuk kamar.

Kucingku tidak berwarna hitam. “Kucing siapa ini?” Tanyaku dalam hati. Jangan-jangan ini kucing tetangga. Atau kucing liar yang nyasar.

Masih sibuk aku bertanya-tanya dalam hati, kucing hitam itu terlihat mulai menggerakan kaki depannya, menjilatinya perlahan, bergantian kanan-kiri dengan penuh kesabaran. Nampaknya dia habis memakan sesuatu.

Apa-apaan kucing ini. Sembarangan masuk ke rumah orang, hanya berdiri diam, dan masih saja sesekali menatapku tajam. Semakin penasaran akhirnya kucoba untuk memanggilnya.. dia hanya diam. Sekali lagi kupanggil.. dia tetap saja diam. Sama sekali tak bergeming. Malah semakin asik membersihkan kaki depannya yang mungkin dia anggap sebagai tangan.

Belum selesai aku bingung dibuatnya, tiba-tiba kucing hitam itu meninggalkanku. Melangkah keluar dengan suara kaki kecilnya yang masih terdengar sama. Pergi begitu saja mengacuhkanku yang masih terbaring lelah di atas kasur kusam. Dan sekali lagi aku bertanya dalam hati, kucing siapa itu? Kucing tetangga atau kucing liar yang nyasar. Berwarna hitam, bermata kuning, masuk sembarangan dan hanya berdiri diam sambil menatap tajam. Ngeri.

by :

Seorang pemuda yang senantiasa membela kepentingan bangsa dan negara Indonesia di atas kepentingan pribadi dan golongan. Menulis untuk dibaca.