Situs Purbakala Online
Dunia

Aku Mau Bunuh Nyamuk

Aku mau bunuh nyamuk

Pagi ini aku kembali terbangun tidak nyaman. Lagi-lagi makhluk kecil itu menusuk-ku saat tertidur pulas. Menghisap darah segar bergolongan B yang kebetulan belum berhenti mengalir, masih lancar menyusuri tubuh. Sebenarnya aku ikhlas untuk soal darah, cuma beberapa tetes saja yang sanggup mereka ambil. Yang menjengkelkan adalah mereka selalu saja meninggalkan bekas. Bekas luka yang selalu membuatku geram. Bengkak, memerah. melebar, benar-benar merusak kulit. Aku yakin pasti mulutnya penuh dengan racun. Tidak hanya menusuk dalam diam, makhluk kecil ini juga sangat berisik. Suaranya tak kalah menjengkelkan. Bising mendesing bikin pusing.

Ooh iya, aku sampai lupa mengenalkannya. Orang orang dari tempatku berasal menyebut makhluk kecil itu dengan sapaan nyamuk. Makhluk minimalis antah berantah yang entah darimana asalnya. Berwarna hitam, memiliki keahlian terbang, super gesit dan sangat lincah saat di udara. Pandai berbaur di tempat umum hingga tak seorang pun akan menyadari keberadaannya. Yang paling mengerikan adalah nyamuk paling suka minum darah. Selalu darah segar. Setauku belum pernah ada nyamuk yang menghisap mayat.

Kuperiksa pergelangan tangan, lengan, kaki, hingga wajah. Dan benar.. bentol-bentol telah menyebar di beberapa bagian. Membengkak. memerah. dan melebar. Nyamuk sekali lagi berhasil merusak pagiku. Sesekali masih kudengar suara sayapnya, namun sangat sulit bagiku untuk mendeteksi letaknya. Seakan menempel di daun telinga rasanya. Dan tanpa sadar tanganku bergerak acak berusaha menepis suaranya.

Aku mau bunuh nyamuk. Berkali-kali pikiran itu muncul dalam pikiranku. Rasanya ingin kelenyapkan saja mereka biar tak lagi mengganggu tidurku. Tetapi aku sadar, membunuh itu dilarang. Dosa. Sebagai orang yang beragama aku tak bisa membiarkan pikiran itu terus menghantuiku. Orang yang tak percaya Tuhan juga pasti mengerti jika membunuh itu kejam. Tidak boleh.

Jadi apa yang harus kulakukan. Tak kuasa membunuhnya, tak sudi pula terus-terusan menjadi makanannya. Sekali lagi kutegaskan semua ini bukan soal darah, tapi bekasnya. Ini juga bukan lagi soal kemanusiaan. Dia nyamuk bukanlah manusia. Apa ada manusia yang sekecil itu? diam-diam menusuk menghisap darah. Apa ada manusia bisa terbang? Berisik mendesing membuat telinga bising. Tidak ada. Cuma nyamuk yang bisa seperti itu. Makhluk minimalis antah berantah yang entah darimana asalnya.

Masa iya aku harus hidup berdampingan dengan nyamuk. Berat. Tetap saja.. aku mau bunuh nyamuk. Cuma mau bunuh.. tidak sampai membunuh, belum sampai membunuh. Belum ada yang dibunuh.

by :

Seorang pemuda yang senantiasa membela kepentingan bangsa dan negara Indonesia di atas kepentingan pribadi dan golongan. Menulis untuk dibaca.